Bersama Butiran Embun
Saat kumerasa
fatamorgana menyinari hidupku dengan ketenangan batin, perlahan kumencari hal nyata dari apa yang kuinginkan, senja
dipagi hari kupandangi butiran embun didedaunan
menetes jatuh menyentuh tanah lalu hilang hanya menyisahkan tanah yang
basah, udara pagi berhembus dingin menyentuh kulit, kuhirup ketenanganya damai
batin menyegarkan qalbu, aku terdiam, menatap mentari yang mulai terlihat di
antara tangkai pepohonan, menjulang tiggi tegak dan kokoh lalu kembali kutatap
embun yang mulai hangat kilau memancarakan warna kehidupan.
Kuteringat hari
kemarin, hari dimana aku pertama kali menatap dirinya yang membuatku merasa tak
lagi sendiri, bersama butiran embun
kutitipkan rasa rinduku agar ia sampaikan pada hatinya, masih dipagi hari angin
berbisik makna menyayangi dan mencintai, perlahan kumemahami lalu kuterapkan
dalam kehidupanku.
Kisahku semakin
jauh, dirinya semakin jelas dalam pandanganku, cinta dan harapan kian memaksa
untuk selalu peduli pada dirinya, ketulusan yang kuhadirkan adalah buah dari
rasa cintaku yang begitu besar pada dirinya. Mungkin dirinya mulai memahami
perasaanku, ia memberikan harapan yang cukup besar aku telah yakin jika
dirinyalah yang akan mendampingi
hidupku.
Semakin dekat
hubungan yang kami jalin meski tak begitu jelas, apakah dirinya hanya
teman, atau ia sahabat ataukah ia adalah
kekasih?, aku selalu bertanya pada hatiku tentang hal itu, namun kami telah saling menyayangi dan saling
memahami satu sama lain, bagiku dia adalah segalanya, dirinya begitu sempurna
dimataku, meski aku tak pernah tahu apakah dirinya mencintai aku atau tidak.
Namun biarlah
keadaan seperti ini. aku merasa, ini sudah cukup membuatku bahagia, meski aku
masih terus bimbang dengan keadaan yang terjadi. Tapi aku percayakan semua
padanya, karena aku yakin dengan dirinya.
Komentar
Posting Komentar